BEKASI — HOTNETNEWS.CO.ID Peringatan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada Rabu, 30 September 2026, menjadi momentum untuk kembali menengok salah satu lembaran paling kelam dalam sejarah Indonesia sekaligus memperkuat komitmen terhadap persatuan dan nilai-nilai Pancasila.
Pesan tersebut disampaikan Suranto, S.E., S.H., CCD, Advokat & Konsultan Hukum Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Suranto, S.H. & Partners, dalam momentum peringatan G30S/PKI 30 September 2026.
Menurutnya, mengenang sejarah bukan berarti membuka kembali luka untuk mempertajam perpecahan, melainkan menjadikannya pelajaran agar tragedi masa lalu tidak terulang.
“Peringatan G30S/PKI bukan sekadar pengingat luka masa lalu, tetapi alarm kebangsaan. Sejarah harus menjadi pelajaran untuk menjaga Pancasila, persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Suranto.
Ia menekankan bahwa Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara yang menjadi salah satu fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. BPIP juga menegaskan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sekaligus pandangan hidup bangsa yang perlu terus diamalkan dari generasi ke generasi.
Suranto mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai bentuk propaganda, radikalisme, ekstremisme, maupun narasi yang dapat merusak persatuan bangsa.
“Darah dan pengorbanan para pahlawan harus menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Kita wajib menjaga kebhinekaan, menghormati perbedaan dan tetap berdiri tegak di atas nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa momentum 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober memiliki kaitan kuat dalam ingatan sejarah nasional. BPIP menyebut momentum tersebut sebagai bagian dari refleksi mengenai sejarah dan pentingnya pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa.
Di era modern, menurut Suranto, menjaga Indonesia tidak hanya dilakukan melalui kekuatan fisik, tetapi juga dengan memperkuat demokrasi, supremasi hukum, toleransi, persatuan dan kesadaran kebangsaan.
“Jangan wariskan kebencian. Wariskan persatuan. Jangan biarkan sejarah hanya menjadi tulisan di buku, tetapi jadikan pelajaran untuk membangun Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan tetap kokoh dalam bingkai NKRI,” pungkasnya. [Red]












