Scroll untuk baca artikel
Uncategorized

ANAK KRAKATAU KEMBALI ERUPSI, ABU VULKANIK MENYEBAR LUAS — 1.558 PENERBANGAN TERDAMPAK, SEKOLAH DI SEJUMLAH DAERAH DIALIHKAN

×

ANAK KRAKATAU KEMBALI ERUPSI, ABU VULKANIK MENYEBAR LUAS — 1.558 PENERBANGAN TERDAMPAK, SEKOLAH DI SEJUMLAH DAERAH DIALIHKAN

Sebarkan artikel ini

SELAT SUNDA | HOTNETNEWS.CO.ID — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian serius. Erupsi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera. Senin (7/9/2026)

Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus mulai Sabtu, 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh. Aktivitas gunung api tersebut kemudian berdampak pada penyebaran abu vulkanik yang terus dipantau pemerintah dan lembaga terkait.

Dampak erupsi tidak hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik terpantau mencapai sejumlah wilayah, termasuk Banten, Lampung, Jakarta dan Jawa Barat. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat, kesehatan, pendidikan hingga transportasi udara.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut 1.558 penerbangan terdampak di delapan bandara, dengan sekitar 170.000 penumpang ikut terdampak akibat gangguan operasional penerbangan. Delapan bandara yang terdampak antara lain Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas dan Atung Bungsu.

Dampak abu vulkanik juga mulai memengaruhi kegiatan pendidikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh mulai 7 September 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap paparan abu vulkanik.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bogor menetapkan PJJ selama dua hari, yakni 7 dan 8 September 2026. Abu vulkanik dilaporkan telah mencapai wilayah Bogor, sehingga pemerintah daerah mengimbau masyarakat menggunakan masker dan menghindari kontak langsung dengan abu.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III (Siaga). Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung api dan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB maupun pemerintah daerah.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Perubahan arah angin dapat menyebabkan wilayah sebaran abu vulkanik berubah sewaktu-waktu. [Red]