Bekasi, 4 Juni 2026 – Dugaan korupsi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah Kejaksaan Agung menetapkan sejumlah mantan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG tahun 2025–2026.
Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Umum Media Online HOTNETNews.co.id, Slamet Riyadi, menyampaikan kritik keras terhadap dugaan penyimpangan yang terjadi dalam program yang sejatinya diperuntukkan bagi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.
“Program Makan Bergizi Gratis seharusnya menjadi harapan bagi anak-anak untuk mendapatkan asupan gizi yang layak. Namun jika benar terjadi korupsi di dalamnya, maka program ini bukan lagi untuk anak-anak, melainkan untuk para koruptor yang mengambil keuntungan dari hak rakyat,” tegas Slamet Riyadi.
Menurutnya, dugaan korupsi pada program yang menyangkut masa depan generasi bangsa merupakan tindakan yang sangat memprihatinkan dan tidak dapat ditoleransi. Ia meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas siapa pun yang terlibat tanpa pandang bulu.
“Uang negara yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa jangan sampai menjadi bancakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Aparat penegak hukum harus membuka semuanya secara transparan agar masyarakat mengetahui siapa saja yang terlibat,” ujarnya.
Slamet juga menegaskan bahwa pengawasan terhadap program-program strategis nasional harus diperketat agar tidak menjadi ladang korupsi. Ia berharap kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh penyelenggara negara agar mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung mengumumkan penetapan sejumlah mantan pejabat BGN sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) periode 2025–2026. Kasus tersebut masih terus didalami untuk mengungkap pihak-pihak lain yang diduga terlibat.
“Jangan sampai program yang dibuat untuk menyehatkan anak-anak Indonesia justru menjadi sarana memperkaya segelintir orang. Jika itu terjadi, maka yang kenyang bukan anak-anak, melainkan para koruptor,” tutup Slamet Riyadi.












